Kronologi G-30-S / PKI

22:00 – Kol Latief, salah satu komandan G30S, melapor kepada Soeharto, Pangkostrad, di RS.

Pangkostrad adalah organisasi militer besar untuk berperang melawan Malaysia, tidak memiliki pasukan organik di Jakarta. Batalion-batalion dari Kodam yang akan digerakkan ke Kalimantan disatukan dalam organisasi Kostrad. Jadi Kostrad di Jakara saat itu bukan organisasi tempur kohesif dengan rantai komando. Komando batalion baru dipegang Kostrad setelah berada di Kalimantan, dipimpin Wapangkostrad Brigjen Soepardjo, pimpinan militer pangkat tertinggi pada G30S/PKI.

 

22:30 – Ernst Magenda, Intel ABRI, melapor peningkatan intensitas gerakan PKI menjelang 1 Oktober, yang dikaitkan dengan hari lahir Republik Komunis China.
23:00 – Soekarno berpidato pada Munas Teknik di Istora Senayan dengan ilustrasi perwayangan yang menggambarkan Kresna menasehati Arjuna yang ragu pada perang saudara Bharata Yudha.

1 Oktober 2017

00:00 – Tim inti berkumpul di markas komando, Gedung Penas (Pemetaan Nasional, Divisi Pengamat Udara TNI Angkatan Udara) tak jauh dari sudut barat laut Halim.

  • Sjam Kamaruzaman (Ketua Biro Chusus Partai Komunis Indonesia)
  • Supono Marsudidjojo (Asisten Sjam di Biro Chusus)
  • Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya)
  • Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa)
  • Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim)

Perwira dengan pangkat tertinggi adalah Brigjen Suparjo, Panglima Komando Tempur IV Komando Mandala Siaga.

02:00 – Pasukan Bimasakti G30S terdiri atas Kostrad 530 & 454 bergerak dari Senayan ke Monas.

Basis pasukan di Lubang Buaya, Halim. Elemen Pemuda Rakyat PKI dipersenjatai dengan senjata dari PRC yang didatangkan untuk Angkatan Kelima.

03:15 – Pasukan Pasopati G30S dibawah komando Kol Latief dan Lettu Dul Arief berangkat dari Kemayoran menjemput para jenderal: Kompi C Yon 1 Cakrabirawa, 1 kompi 454, 1 kompi 530, 2 pleton Brigif 1, didukung oleh Pemuda Rakyat.

05:00 – Pasukan Pasopati G30S melapor ke Senko Penas, markas G30S, dibawah Brigjen Suparjo, bahwa operasi sukses, seluruh Jenderal sasaran berhasil ditangkap atau dibunuh.
05:30 – Letkol Heru Atmojo (yang mengunjungi Senko Penas atas perintah Umar Dhani untuk menemui Brigjen Suparjo) menyaksikan bahwa terjadi kepanikan luar biasa karena baru disadari bahwa Jenderal Nasution lolos dan telah menggerakkan pasukan. Senko segera dipindahkan ke Senko 2, di dalam kompleks Halim.
05:30 – Sarwo Edhie (loyalis Ahmad Yani) menyiagakan RPKAD Cijantung, Mayor CI Santosa menarik paksa Yon 1 RPKAD dari Senayan ke Cijantung.
06.00 – Soeharto tiba di Kostrad, dihubungi oleh Nasution, diminta mengambil alih komando.
06.30 – Rombongan Soekarno menuju Istana, saat melewati HI, ajudan Mangil mendapat laporan dari perwira Cakrabirawa unsur Brimob bahwa Nasution lolos. Soekarno memerintahkan rombongan batal menuju Istana, melainkan ke Grogol.
06.30 – Brigjen Soeparjo menunggu di Istana, mendapat laporan bahwa Presiden tidak ke Istana, segera kembali ke Halim.
07.00 – Mayjen Pranoto Reksosamodra ke Mabes AD, mengadakan rapat darurat.
08.30 – Rapat Mabes AD mengikuti anjuran Nasution (yang tidak hadir), mengangkat Suharto sebagai pimpinan AD sementara, menggantikan Ahmad Yani. Keputusan disampaikan via kurir ke Makostrad.
09.00 – Soekarno memilih ke Halim, mengangkat Mayjen Pranoto sebagai pengganti Ahmad Yani sementara.
11.00 – Sarwo Edhie menghadap ke Makostrad, bertemu Suharto dan Nasution.
13.30 – RPKAD bergabung ke Kostrad.
16.00 – Konsolidasi pasukan Nasution selesai: Kodam Jaya melakukan blokade jalan dan menggelar senjata anti serangan udara, unit lapis baja Siliwangi berangkat dari Bandung menuju Jakarta, 530 dan 2 kompi 454 di Monas bergabung, kecuali 454 lain bergabung ke Halim.
18.00 – RPKAD menyerang 454 di Halim lewat Klender. Soekarno terbang ke Bogor. Makostrad, Suharto bersama Nasution, pindah ke Senayan, mengantisipasi serangan udara dari AURI.

2 Oktober
02.00 – Sarwo Edhie terbang ke Bogor, menyampaikan bahwa 454 hanya akan menyerah jika mendapat perintah dari Soekarno. Soekarno menjelaskan bahwa pimpinan pasukan di Halim adalah Brigjen Soeparjo, dan membuat nota kepada pasukan G30S di Halim.
07.00 – Sisa Pasukan G30S di Halim menyerah.

11.00 – Mayor CI Santoso berangkat ke Semarang menyerang Pasukan G30S disana yang telah membantai banyak orang.
Sarwo Edhie diperintahkan Nasution untuk menyusul dan mengamankan sampai ke Magelang, bergabung dengan Yon 2 RPKAD Magelang, mengamankan pangkalan AURI, mencegah G30S membangun basis di pangkalan utama AURI.

G30S berhasil dihancurkan.

 

Referensi:

Soegiarso Soerojo, “Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai”, 1988
https://www.amazon.co.uk/Siapa-menabur-angin-menuai-badai/dp/B0000D7JQ2


Victor Vic, sejarawan Cekoslovakia
http://obor.or.id/kudeta-1-oktober-1965

Soegiarso Soerojo, sejarawan Indonesia
https://www.amazon.co.uk/Siapa-menabur…/dp/B0000D7JQ2

Dokumen Brigjen Suparjo
Mayjen Samsudin
http://pustaka.mpr.go.id/book/259

GESTAPU 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto

https://nasional.tempo.co/read/705414/eksklusif-g30s-1965-lelaki-lima-alias-di-operasi-penculikan?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s