Diskusi Kebangsaan Mengenai Tafsir MUI 11/10/16

Dokumen ini adalah pendahuluan pada Diskusi Kebangsaan Mengenai Tafsir MUI 11/10/16.

Tafsir MUI 11/10/16

Surat Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI tanggal 11 Oktober 2016, antara lain menyatakan:

“… Majelis Ulama Indonesia, setelah melakukan pengkajian, menyampaikan sikap keagamaan sebagai berikut:

1. Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.

2. Ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin muslim adalah wajib.

3. Setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin.
…”

Bagian dari surat MUI ini kami sebut sebagai Tafsir MUI 11/10/16, yang secara lengkap diperoleh dari Internet di link ini.

MUI sendiri merupakan lembaga resmi yang mewakili ulama Islam Indonesia sehingga dapat menjadi subjek penilaian bagi segenap komponen kebangsaan Indonesia.

Terdapat pendapat bahwa Tafsir MUI 11/10/16 telah memecah bangsa Indonesia menjadi 2, entah itu Islam dan non-Islam, atau Kristen dan non-Kristen, dimana bangsa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai satu bangsa, melainkan satu golongan berkuasa diatas yang lain. Namun terbuka kemungkinan adanya pemaknaan lain atas Tafsir MUI tersebut.

Untuk itu kami memandang perlu dimulai suatu diskusi kebangsaan atas Tafsir MUI 11/10/16.

 

Maksud

Diskusi ini dimaksudkan untuk:

  • Mencoba memahami tafsir MUI tersebut dalam konteks kebangsaan.
  • Mengumpulkan, menggali, mengkaji, merenungkan, dan menganalisa berbagai pendapat mengenai keberadaan tafsir MUI tersebut dari sudut pandang berbagai komponen kebangsaan Indonesia.
  • Memikirkan tindak lanjut yang bijaksana dan terukur oleh masing-masing pihak dalam menyikapi Tafsir MUI 11/10/16 tersebut.

Lingkup

Diskusi ini diharapkan dalam lingkup terbatas pada kaum nasionalis Indonesia, dengan semangat Sumpah Pemuda 1928. Untuk itu dapat diikuti oleh orang-orang Indonesia dari berbagai suku dan agama.

Diskusi dimulai melalui grup Facebook, dan diharapkan dalam bentuk penyampaian tulisan-tulisan terkait, dan ditanggapi dalam bentuk tulisan pula, untuk menghindari diskusi dialogis yang dapat menimbulkan kesalahan persepsi.

Batasan

Diskusi ini dibatasi agar:

  • Tidak masuk dalam politik praktis, mengenai pilkada, khususnya pilkada DKI 2017, maupun pemilu yang akan datang.
  • Bersifat non-partisan, tidak berpihak pada salah satu partai politik.
  • Menghindari debat kusir, dialog adhomonim yang mencela pribadi, ekspresi yang mengandung kebencian.

Sejumlah Pertanyaan

Tafsir MUI 11/10/16 melahirkan sejumlah pertanyaan:
1. Sejauh mana diskriminasi yang dianjurkan oleh MUI dari sisi agama-nya?
Tafsir MUI 11/10/16 hanya mengacu pada diskriminasi agama Kristen (dengan asumsi agama Yahudi tidak signifikan di Indonesia). Menimbulkan pertanyaan apakah umat Hindu dan Budha (Konghuchu, Aliran Kepercayaan, dsb) termasuk yang wajib di-diskriminasi oleh umat Muslim, atau terbatas hanya Kristen: “asal bukan kafir Nasrani”. Bisa jadi tafsir tersebut berarti umat Islam dapat memilih umat Hindu, Budha, Konghuchu, Aliran Kepercayaan, bahkan penganut Agnostik dan Atheis sebagai pemimpin. Namun ada kekhawatiran bila justru ditafsirkan umat Hindu, Budha, dsb dianggap sebagai kafir harbi penyembah berhala yang halal darahnya.
2. Sejauh mana diskriminasi yang dianjurkan oleh MUI dari sisi jabatan-nya?
Tafsir MUI 11/10/16 hanya menyebut “pemimpin”. Kurang jelas apakah MUI menganjurkan diskriminasi hanya pada tataran jabatan Presiden, Ketua lembaga tinggi negara, dan Kepala Daerah Tingkat I dan II, atau yang tersurat bahwa diskriminasi dianjurkan dalam seluruh tataran kepemimpinan, mulai dari Ketua Kelas SD, Wali Kelas SMP, Ketua OSIS SMA, Kepala Sekolah, Dosen Wali, Ketua Jurusan, Ketua Himpunan Mahasiswa, Presiden BEM, Ketua Arisan, Kapolri, Kapolda, Kapolsek, Panglima Divisi Kostrad, Panglima Kohanudnas, Komandan Batalion, Manajer, Supervisor, Ketua Tim Penyidik, Hakim Ketua, Kepala Dinas Pertamanan, dsb. Bahkan pada beberapa acuan tafsir serupa disebut bahwa yang dimaksud pemimpin termasuk jabatan bendahara. Bagaimana definisi tafsir “pemimpin”?
3. Bagaimana kategori keormasan MUI?
MUI selama ini dinilai merupakan ormas yang menjadi counter-part Pemerintah dan acuan bagi ulama di Indonesia. Namun apakah MUI berbeda dengan ormas lain, misalnya NU atau Muhammadiyah, ataukah setara dan sejajar. Dalam hal label halal, misalnya MUI bukan lagi penyedia tunggal. Namun dalam berbagai hal terkait keagamaan, umumnya pemerintah selalu mengacu kepada MUI. Adakah kekhususan dari MUI dibanding dengan ormas lain yang mewakili ulama Indonesia?
4. Apa dampak sosial atas Tafsir MUI 11/10/16?
Tafsir MUI 11/10/16 merupakan anti-tesis dari Sumpah Pemuda: “Berbangsa satu, bangsa Indonesia”. Sekalipun pemikiran serupa itu sudah lama berkembang, namun tafsir pribadi sangat berbeda sifatnya dengan tafsir yang difatwakan wajib oleh MUI. Bagaimana perubahan struktur masyarakat yang mungkin terjadi dengan adanya Tafsir MUI 11/10/16? Apakah pergeseran ini akan berdampak baik, buruk, atau tidak berdampak, bagi umat masing-masing agama, maupun bagi bangsa Indonesia dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
5. Bagaimana menyikapi pergeseran MUI yang moderat menjadi diskriminatif?
Dapatkah Indonesia menerima MUI yang diskriminatif tetap dalam perannya? Ataukah perlu pengganti fungsi MUI oleh ormas Islam nasionalis yang moderat sebagai perwakilan dari ulama dan menjadi acuan atas umat Islam Indonesia? Bila tidak perlu bagaimana menyikapi tafsir diskriminatif dari MUI, dan bila perlu, ormas mana yang paling tepat dikembangkan menjadi organisasi ulama Indonesia yang berjiwa kebangsaan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s