Kerajaan Arab Saudi (Bagian 1) – Sejarah Singkat

Kerajaan Arab Saudi adalah kerajaan yang lahir dari pemberontakan dinasti Saud, atas 400 tahun penjajahan Kekhalifahan Islam Ottoman-Turki.

Dinasti Saud Pertama (Diriyah)

Dinasti Saud awalnya didirikan oleh Muhammad bin Saud tahun 1744 dengan ibukota Diriyah. Adalah Muhammad bin Abdul Wahab, pimpinan spiritual dari keluarga Saud, yang menjadi asal nama Wahabi, ideologi dinasti Saud. Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab menjalin hubungan keluarga melalui pernikahan.

Sebutan Wahabi bagi para pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahab pertama kali disebut oleh Sulaiman bin Abdul Wahab, abang dari Muhammad bin Abdul Wahab, pada kitabnya yang berjudul “al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi raddi alal Wahhabiyah”, yang kemudian menjadi nama acuan bagi pengikut aliran tersebut. Pada setiap dinasti Saud hingga hari ini, Wahabi merupakan aliran resmi, termasuk di Kerajaan Saudi saat ini.

Keturunan dan pengikut Muhammad bin Saud (ibn Saud) disebut Saudi.
Keturunan dan pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (ibn Wahab) disebut Wahabi.
Saudi menangani kenegaraan dan perang, sementara Wahabi menangani keagamaan.
Hingga hari ini, Wahabi merupakan aliran resmi di Kerajaan Saudi.

Saud bin Abdul Azis bin Muhammad bin Saud memimpin dinasti Wahabi-Saudi pertama memberontak terhadap penjajahan Kekhalifahan Islam Ottoman-Turki. Penjajah Ottoman-Turki dikenal kejam oleh bangsa Arab. Namun sebaliknya, pemberontakan Wahabi-Saudi mencatat kekejaman dan pembantaian atas penganut Islam yang dinilai tidak sepaham. Tahun 1802 milisi Wahabi-Saudi merebut Karbala di Irak, membantai 5.000 penganut Syiah, serta menghancurkan dan melecehkan makam imam Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Kekejaman ini menambahkan api amarah dan dendam 1.000 tahun Syiah pada Arab-Suni.

Milisi Ekstrim-Wahabi juga sempat menyebar sampai ke Nusantara, yang dikenal dengan Pemberontakan brutal Wahabi-Paderi terhadap Kesultanan Islam Minangkabau (Pagaruyung) yang dimulai sekitar 1803. Pemberontakan ini merupakan bagian dari Pemberontakan Wahabi di Nejd dan Hejaz terhadap Kekhalifahan Ottoman-Turki. Pembangunan benteng-benteng Wahabi-Paderi awalnya ditujukan untuk merebut kekuasaan di Sumatera khususnya dari Kerajaan Aceh yang bernisbat pada Khalifah Islam dan saat itu merupakan kerajaan terkuat di Sumatera.

Tahun 1819, Saud bin Abdul Azis dan anaknya Abdullah bin Saud dikalahkan oleh Ali Pasha dan anaknya Ibrahim Pasha, Gubernur Mesir yang setia pada Khalifah. Kota Diriyah diratakan dengan tanah. Abdulah bin Saud ditangkap dan dibawa ke ibukota Kekhalifahan Ottoman-Turki, dipenggal dan mayatnya digantung di sebuah gerbang di Istambul. Kepalanya dibuang ke selat Bhosphorus.

Dinasti Saud Kedua (Riyadh, Nejd)

Abdul Rahman bin Faisal, cicit dari Abdullah bin Saud, memimpin dinasti Wahabi-Saudi kedua sebagai Amir Nejd dengan ibukota di Riyadh, namun dikalahkan oleh dinasti Rashidi tahun 1900. Abdul Rahman kemudian mengungsi ke Kuwait, menjadi pemimpin spiritual Wahabi dan menyerahkan kekuasaan pada anak-nya, Abdulazis bin Abdul Rahman.

Hingga masa Dinasti Saud Kedua, Inggris tidak memiliki hubungan dengan keluarga Saud. Inggris adalah sekutu dari Kekhalifahan Ottoman-Turki. Misalnya pada Perang Krime, 1853-1856, pasukan sekutu Inggris, Prancis, dan Ottoman-Turki bergabung mengalahkan Kekaisaran Russia.

Sampai Perang Besar Eropa 1914, Kekaisaran Inggris merupakan sekutu dekat Kekhalifahan Ottoman-Turki.
Armada Inggris menyelamatkan Istanbul dari invasi Kekaisaran Russia tahun 1878.

Tahun 1878, Ottoman-Turki dikalahkan oleh Kekaisaran Russia, dan pasukan Russia bergerak menuju ibukota Istanbul. Inggris mengirimkan armadanya demi menyelamatkan Istanbul dari pasukan Russia. Russia terpaksa menghentikan agresi-nya namun berhasil memerdekakan Romania, Bulgaria, Montenegro, dan Serbia, yang sebelumnya dijajah oleh Ottoman-Turki. Jadi tidak ada kaitan antara Inggris dengan pemberontakan keluarga Saud, sampai dengan Perang Besar Eropa 1914.

abdulazis

Dinasti Saud Ketiga (Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia)

Adalah Abdulazis bin Abdul Rahman, yang kemudian berhasil mendirikan Kerjaan Saudi Arabia, dinasti Wahabi-Saudi ketiga, yang menyatukan jazirah Arab: Najd dan Hejaz. Sebagai pemimpin keluarga Saud, Abdulazis dikenal dengan sebutan Ibn Saud: sang pemimpin keluarga Saud, anak Saud.

Pendiri Kerajaan Saudi adalah Abdulazis bin Abdul Rahman.
Yang disebut Ibn Saud.

Abdulazis (Ibn Saud) berangkat dari Kuwait tahun 1902 dengan 40 orang bersenjata dan berhasil merebut Riyadh melalui serangan mendadak menewaskan penguasa kota.

Mendengar direbut-nya ibukota Saud, Riyadh, seluruh suku Saud dan penganut Wahabi angkat senjata mengikuti Ibn Saud, memberontak pada Khalifah Islam Ottoman-Turki. Diantara pasukan pendukung Ibn Saud terdapat milisi Ekstrim-Wahabi bernama Ikhwan yang sangat radikal.

Penguasa setempat dari dinasti Rashidi didukung oleh Khalifah Ottoman, namun Ottoman saat itu tengah mengalami kemunduran sehingga tidak mampu mengirimkan pasukan dalam jumlah besar.

Khalifah Ottoman-Turki baru menyadari bahwa militernya sangat terbelakang setelah dihancurkan oleh Kekaisaran Russia. Moderenisasi pasukan Ottoman-Turki dilakukan oleh para penasehat militer Jerman. Moderenisasi militer ini sangat sukses pasukan moderen Ottoman-Turki memenangkan sejumlah pertempuran penting. Akibatnya hubungan Kekhalifahan Ottoman-Turki dengan Kekaisaran Jerman menjadi sangat dekat, sementara hubungan dengan Kekaisaran Inggris terus menurun karena Inggris bermusuhan dengan Jerman.

Sementara itu di Hejaz dan Najd, dari 1902 – 1914, Ibn Saud berulang kali memperoleh kemenangan pertempuran. Dengan dukungan dari milisi ekstrim Wahabi: Ikhwan, Ibn Saud berhasil menguasai wilayah Al -Qassim, Al-Hassa dan Qatif.

abdulazis-percy

Dukungan Inggris

Keberhasilan militer Ibn Saud menarik perhatian Inggris yang memiliki hubungan baik dengan Emir Kuwait. Inggris awalnya tidak ikut campur karena memiliki perjanjian damai dengan Khalifah Ottoman-Turki. Namun Inggris yang bersiap berperang melawan Jerman menyadari kemungkinan Ottoman-Turki berpihak pada Jerman. Inggris mulai membuka kontak dengan lawan-lawan Khalifah di wilayah jajahan Ottoman-Turki. Diantaranya, organisasi yang terkuat adalah kelompok-kelompok nasionalis dan feodalis Arab seperti Ibn Saud yang secara de-fakto sudah menguasai wilayah Nejd dan memiliki pasukan yang cukup besar.

Perang Besar Eropa pecah 1914 antara Inggris dan Prancis melawan Jerman dan Ottoman-Turki. Kondisi ini memberi keuntungan pada Ibn Saud dan kaum nasionalis Arab di Timur Tengah hingga Afrika Utara. Di awal perang, umumnya suku-suku Arab berpihak pada Khalifah, dan direkrut menjadi tentara Ottoman-Turki. Misalnya pada invasi sekutu ke Canakkale (Perang Gallipoli) cukup banyak orang Arab menjadi serdadu. Invasi ini digagalkan oleh kepemimpinan Mustafa Kemal dan kepahlawanan pasukan Ottoman-Turki yang banyak berasal dari etnis Arab, disamping etnis jajahan lain.

Sepanjang perang, 1914 – 1918, untuk melemahkan Ottoman-Turki, Inggris mendukung pemberontakan di wilayah-wilayah jajahan musuh-nya itu. Inggris bukan hanya mempersenjatai, tetapi juga mengirimkan pasukan untuk memperkuat Ibn Saud maupun Revolusi Arab di banyak wilayah melawan pengaruh Khalifah.

Di jazirah Arab, Inggris mendorong kesepakatan perbatasan antara dinasti Saud dan dinasti Rashidi untuk bersama-sama mengusir penjajah Ottoman-Turki. Dengan bantuan bangsa Arab, Kekaisaran Inggris dan Prancis mengambil alih kekuasaan di Timur Tengah dan Afrika Utara dari Kekhalifahan Ottoman-Turki.

Pasukan koalisi Jerman dan Ottoman-Turki dihancurkan di wilayah Palestina oleh pasukan koalisi Kekaisaran Inggris dan milisi-milisi Arab. Banyak serdaru Arab di pasukan Ottoman-Turki melakukan desersi, bahkan bergabung dengan milisi-milisi Arab pro Sekutu. Akibatnya tidak ada pasukan yang bisa melindungi invasi sekutu ke wilayah Turki. Istanbul diduduki oleh pasukan Inggris dan Prancis. 1918, Perang Besar Eropa berakhir dengan menyerahnya Jerman. Wilayah jajahan Ottoman-Turki diambil alih oleh para pemenang perang. Praktis seluruh penjajahan Khalifah Ottoman-Turki di tanah Arab berakhir, digantikan oleh perlindungan Inggris (protektorat). Peran Arab dalam Perang Besar Eropa mendorong Inggris untuk tidak menjajah Timur Tengah, tetapi bermaksud menyerahkan kekuasaan kepada sekutu-sekutu-nya, bangsa Arab. Saud adalah sekutu utama Inggris di jazirah Arab.

Keterlibatan Inggris disini tidak dapat dikatakan sebagai “adu-domba” sebagaimana sering diungkapkan oleh kelompok anti Saudi. Karena kenyataannya, Saudi sudah memberontak melawan penjajah Ottoman-Turki sejak lama. Inggris tidak menyebabkan pemberontakan Arab, tetapi memang mendukung lawan dari lawan-nya dalam perang.

Pada 1924 dendam Keluarga Saudi pada Turki berakhir dengan dibubarkannya Kekhalifahan Ottoman-Turki oleh Mustafa Kemal Attaturk, pahlawan perang Canakkale. Sang Turki Muda berhasil membawa Turki dari jajahan Prancis dan Inggris menjadi negara sekuler yang moderen.

280px-flag_of_ikhwan

Wahabi-Saudi vs Ekstrimis-Wahabi

Wahabi merupakan aliran fundamentalis Islam. Fundamentalis adalah sebutan untuk aliran yang ingin memurnikan / menjaga kemurnian ajaran-nya. Misalnya aliran-aliran Kristen Injili, Kharismatik, Adven, dsb, di Amerika Serikat disebut sebagai fundamentalis Kristen. Sebagaimana pada aliran lain, pada aliran fundamentalis terdapat aliran moderat dan ekstrim. Namun ekstrim fundamentalis cenderung melakukan aktifitas melawan hukum dan bertentangan dengan keadilan universal.

Kerajaan Saudi merupakan penganut Wahabi yang moderat. Namun didalam Kerajaan Saudi terdapat penganut aliran Ekstrim-Wahabi.

Pasca Perang Besar Eropa, unsur-unsur milisi Wahabi-Saudi yang ekstrim terus melakukan penjarahan dan penyerangan ke wilayah Kuwait dan Irak. Baik terhadap penganut syiah, non-muslim, maupun muslim suni yang dianggap kafir. Sering terjadi konflik bersenjata antar bangsa Arab dan non-Arab.

Ibn Saud yang merupakan Wahabi moderat tidak mendukung serangan-serangan milisi tersebut. Inggris sebagai penguasa dunia yang mulai melakukan bisnis minyak dengan negara-negara Teluk menginginkan adanya stabilitas kawasan. Pada 1922, melalui protokol Uqair, Inggris dan Saudi menetapkan batas-batas Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Kuwait kehilangan 2/3 wilayahnya pada protokol tersebut. Berdasarkan perjanjian tersebut Ibn Saud melarang praktek penjarahan dan perampokan yang dilakukan oleh milisi ekstrim Wahabi pengikutnya.

Larangan ini ditanggapi Ekstrim-Wahabi dengan mengkafirkan Ibn Saud, pimpinannya sendiri, karena dianggap berpihak pada kafir Inggris.

1927 milisi Ekstrimis-Wahabi Ikhwan memberontak terhadap Ibn Saud. Ibn Saud berhasil menumpas pemberontakan Ekstrimis-Wahabi tersebut, dan dengan bantuan Inggris seluruh pimpinan pemberontak berhasil ditangkap. Tahun 1931 pimpinan Ikhwan ditewaskan oleh Kerajaan Saudi. Pemberontakan ini juga menandai awal perang panjang antara Ekstrimis-Wahabi dengan Wahabi-Saudi yang moderat yang berlangsung hinggga hari ini.

Wahabi adalah aliran fundamentalis Islam.
Kerajaan Saudi adalah penganut Wahabi moderat.
Diantara penganut Wahabi terdapat Ekstrimis-Wahabi.
Saudi sudah memerangi Ekstrimis-Wahabi sejak 1927,
sejak sebelum berdirinya Kerajaan Saudi 1932.

 

saudiarabiaflagpicture1

Kerajaan Arab Saudi

Dengan runtuhnya Kekhalifahan Islam Ottoman-Turki, tumpasnya milisi Ekstrimis-Wahabi Ikhwan, serta stabilitas melalui dukungan pengaruh negara super power Inggris, pada tahun 1932 Ibn Saud mengumumkan berdirinya Kerajaan Arab Saudi di Hejaz dan Nejd, hingga perbatasan Irak dan Kuwait.

Kemerdekaan tersebut diraih dari Perlindungan Penguasa Inggris, yang merupakan sekutu Saudi.

Fakta penting yang sering dibelokkan oleh pembenci Kerajaan Arab Saudi menjadi jelas disini:

1. Pemberontakan Saudi merupakan bagian dari perang kemerdekaan bangsa Arab atas penjajahan Kekhalifahan Ottoman-Turki selama 400 tahun yang sangat kejam, jauh lebih kejam daripada penjajah Belanda.

2. Saudi sudah memulai perang kemerdekaan jauh sebelum Inggris apalagi Amerika hadir di jazirah Arab. Ibn Saud sudah memenangkan banyak pertempuran dan mendominasi jazirah Arab 1902 sebelum terjadi kontak dengan Inggris melalui Kuwait tahun 1914.

3. Pemberontakan Ibn Saud dimulai 1902 tidak berhubungan dengan Inggris. Revolusi Arab 1916-1918 didukung oleh Inggris karena Kekhalifahan Ottoman-Turki memihak pada Kekaisaran Jerman pada Perang Besar Eropa.

4. Proklamasi kemerdekaan Kerajaan Arab Saudi baru dilakukan tahun 1932 dari penguasa Inggris yang menguasai wilayah tersebut sejak 1918, 10 tahun setelah Kekhalifahan Ottoman-Turki dibubarkan tahun 1922.

5. Kerajaan Arab Saudi merupakan penganut Wahabi moderat yang sejak lama (1927) memerangi kelompok Ekstrimis-Wahabi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s