Dosa Bangsa, Dosa Kita: Mei 1998

Pembunuhan 98

Pada akhir Orde Baru, banyak orang diculik, dikenal dengan “penghilangan paksa”. Sebagian hilang tidak pernah kembali, dapat diasumsikan dibunuh. Tidak pernah ada kejelasan pelaku tindakan tersebut selain bahwa pemahaman umum negara terlibat. Pengadilan atas sejumlah prajurit sama sekali tidak menunjukkan otak bahkan pelaku pembunuhan. Tidak pernah terungkap bagaimana kejadian pembunuhan, dimana jasad korban dan siapa yang memerintahkan. Sejumlah prajurit pasukan khusus dikorbankan sebagai kambing hitam.

Para martir Trisakti gugur ditembak dengan sengaja oleh pasukan pembunuh yang tak dikenal. Kerusuhan terencana terjadi menyusul pembunuhan itu. Mengangkat isu ras anti keturunan Cina, para provokator, kelompok terorganisasi menggerakkan massa melakukan kerusuhan.

Lebih 1,000 orang tewas, kebanyakan rakyat jelata yang dibakar di beberapa pertokoan. Puluhan kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, dan penganiayaan terjadi. Angka korban bisa jadi lebih daripada catatan resmi laporan Mei 1998. Sulit dipastikan hari ini, 19 tahun setelah kejadian.

DPR yang didominasi Orde Baru melindungi para pelaku dan otak kerusuhan dengan cara menolak menyatakan kasus sebagai pelanggaran HAM berat yang harus disidik oleh penyidik independen.

Komnas HAM didirikan dan bekerja setengah hati sampai akhir masa kerjanya tidak dapat membuka kasus ini.

Pemerintah selanjutnya cenderung menutupi kasus ini, membiarkan nyawa dicabut tanpa pertanggung-jawaban.

Komnas HAM selanjutnya lebih bersikap normatif, hanya bersuara pelan tanpa menunjukkan tanggung-jawab untuk membuka dan menyelesaikan kejahatan HAM ini.

Nyawa tumpah darah Indonesia tidak dianggap berharga di negeri ini.

Tentang DOSA

Allah, pencipta langit dan bumi sangat menghargai nyawa manusia.

Taurat yang diturunkan kepada Musa menyebutkan bahwa jika 1 orang dibunuh di dekat sebuah kota, maka seluruh penduduk kota itu bertanggung-jawab dan berhutang darah. Apabila pembunuhnya tidak ditemukan maka penduduk kota itu wajib mengorbankan darah ternak, sebagai korban penebusan. Korban ternak disini bukan kurban untuk dimakan orang miskin, melainkan korban bakaran yang dibakar habis sebagai tebusan kepada Allah atas nyawa yang tumpah tanpa balasan.

Tanpa korban itu maka seluruh bangsa terkutuk. Demikian hukum Taurat Musa mengajarkan betapa berharganya nyawa manusia dihadapan Allah.

Jiwa orang-orang yang mati dibunuh menjerit kepada Allah meminta keadilan, sejak anak Adam membunuh saudaranya. Bila keadilan tidak ditegakkan oleh manusia melalui pemerintah, maka Allah sendiri akan menegakkan hukum dan seluruh bangsa berada dibawah kutuk.

Dosa pribadi menjadi dosa bangsa

Pemerintah yang tidak bertanggung-jawab membawa rakyatnya yang sebagian besar tidak tahu menahu dengan pembunuhan itu, menjadi terkutuk. Jika anak-anak Allah tidak bertindak dan menegakkan keadilan maka kejahatan akan semakin besar, menambah dosa bangsa. Sampai satu saat dimana dosa bangsa ditimbang terlalu besar, maka Allah mendatangkan hukuman. Perang, kekeringan, bencana, wabah penyakit, dan musibah besar lain. Hukuman berlaku untuk seluruh bangsa, tidak hanya bagi orang jahat tetapi juga menimpa orang yang baik.

Karena itu kita perlu selalu mendoakan kota dimana kita tinggal. Juga kita perlu mengingatkan bangsa ini tentang dosa-dosa bangsa yang membawa kutuk dan hukuman.

Kita Pelaku

Pasca reformasi 1998, kita bangsa Indonesia menjadi pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini. Di negara demokrasi, rakyat = para raja.

Dari sisi pertanggung-jawaban, kitalah yamg bertanggung-jawab atas kejahatan membiarkan pembunuhan lebih seribu orang. Pembiaran tersebut telah kita lakukan selama 19 tahun, melalui 4 pemilihan umum memilih wakil-wakil kita di DPR, DPD dan MPR serta Presiden.

Kita sebagai pemegang kedaulatan tertinggi telah lalai membiarkan 1000 nyawa hilang tanpa pertanggung-jawaban.

Kalau sebelumnya darah mereka menjerit kepada Tuhan menuntut kejahatan para pembunuhnya, kemudian menuntut kejahatan para pejabat pemerintah dan DPR yang mengabaikan penegakan hukum, maka 19 tahun kemudian mereka menuntut kita, rakyat Indonesia, yang sudah mengabaikan keadilan atas lebih seribu nyawa.

Dengan tulisan ini saya mengingatkan kita semua, agar kita tahu dosa bangsa ini, dan dosa yang kita lakukan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.

Selamat merayakan 19 tahun Reformasi Mei 1998.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s