Mengapa TNI Wajib Menonton Filem G30S/PKI – Kisahnya

Apa yang terjadi?

Kronologi Lengkap G30S klik disini

Pada 30 September, unsur dari 2 batalion TNI AD, unsur-unsur TNI dalam pasukan pengawal Presiden Cakrabirawa, dipersenjatai oleh senjata impor PRC dari gudang TNI AU (bantuan senjata untuk Angkatan Kelima), serta truk-truk yang kebanyakan dari TNI AU, melakukan mobilisasi tempur dengan markas besar di Gedung Penas. Operasi dipimpin oleh Syam (Biro Chusus) dan Nyoto (Wakil Ketua) dari CC PKI, Brigjen Suparjo, Wapangkostrad, serta Letkol Untung, Komandan pasukan pengawal Presiden Cakrabirawa. Beberapa sumber menyebutkan bahwa operasi direncanakan oleh seorang Marsekal dari PRC.

Unsur-unsur ini kemudian dibagi dalam sejumlah kelompok, disertai unsur massa PKI bersenjata, pada subuh 1 Oktober menyerbu ke kediaman sejumlah Jenderal Mabes TNI AD.

Alasan yang digunakan adalah bahwa terdapat Dewan Jenderal yang bermaksud mengkudeta Presiden Soekarno pada 5 Oktober. Pasukan Pasopati bermaksud menangkap dan memperhadapkan para Jenderal kepada Presiden Soekarno di Istana.

Maksud operasi adalah agar kepemimpinan Mabes TNI AD dapat diganti dengan kepemimpinan yang sepenuhnya patuh pada Pimpinan Besar Revolusi Presiden Sukarno, dan tidak anti PKI: mempercepat pembentukan Angkatan Kelima (milisi PKI bersenjata), dan melaksanakan invasi ke Negara Boneka Nekolim Inggris: Malaysia, kedua agenda yang selama ini dinilai dihambat oleh Mabes TNI AD.

Puji syukur pada Allah Yang Maha Kuasa, bahwa operasi tersebut digagalkan oleh seorang Letnan TNI AD.

mon-pan

Dalam penyerbuan ke rumah Jenderal AH Nasution, sang jenderal meloloskan diri dalam kegelapan. Para prajurit G30S berteriak-teriak mencari Nasution dan menyisir seluruh rumah. Ditengah kegaduhan, Pierre Tendean berpakaian seragam TNI tanpa pangkat keluar sambil berseru: “Saya Nasution”. Pasukan G30S dengan senang menangkap “Nasution”, lalu kembali ke markas-nya di Halim tanpa menyadari kudeta telah digagalkan.

Menpangab AH Nasution dan Menpangad Ahmad Yani adalah 2 orang yang sangat berpengaruh di TNI AD, sehingga rencana menguasai Mabes AD tidak mungkin bisa dilakukan bila salah satu lolos, sekalipun dengan dukungan Presiden.

Pagi hari Pasukan Pasopati di Lubang Buaya, Halim, baru menyadari bahwa yang ditangkap adalah seorang Letnan, bukan Jenderal. Saat berita sampai di markas operasi, Gedung Penas, suasana berubah menjadi kepanikan. “Nasution lolos”, demikian ujar mereka sambil kebingungan.

Laporan yang menyusul ke Gedung Penas adalah telah terbentuk kubu pertahanan di Jalan Tengku Umar (kediaman Nasution) dengan orang-orang bersenjata tanpa seragam dan sejumlah Panser berdatangan dari unsur Kodam Jaya dan Marinir Kwitang TNI AL. Mustahil kembali mencari sang Jenderal. Pasukan tak dikenal juga telah memblokade jalan-jalan menuju Istana.

Akses PKI ke unsur-unsur TNI di Siliwangi terputus. Kavaleri yang semula direncanakan mendukung kini tidak jelas (kemudian datang mendukung Nasution). Demikian pula dari unsur-unsur TNI lain, termasu RPKAD. Pasukan di Senayan sudah dikumpulkan dan dilarang bergerak. Sejumlah pelatih RPKAD telah di pengaruhi oleh PKI, namun pagi itu RPKAD apel telah dilakukan. Kolonel Sarwo Edhie menyiagakan seluruh pasukan dan melarang gerakan. Semua komponen pasukan yang sebelumnya direncanakan bisa mendukung G30S sudah tidak dapat digerakkan.

Di Mabes TNI AD, jenderal pro Nasution bersama pendukung para Jenderal yang diculik datang ke rapat menggunakan pakaian tempur dengan senjata lengkap. Mereka sudah dihubungi oleh Nasution. Jenderal pro G30S tidak berani berbuat apa-apa. Rapat digagalkan. Tidak ada keputusan tanpa Nasution. Gedung Penas tidak berhasil memperoleh dukungan dari Mabes TNI AD seperti direncanakan. Keputusan diambil untuk mengevakuasi pusat komando ke dalam kompleks AU Halim.

Presiden Sukarno dalam konvoi menuju Istana. Seluruh jalan ke Istana sudah di blokade oleh pasukan tak dikenal yang memberikan tembakan peringatan. Keputusan diambil, Presiden harus ke Halim, bersiap untuk perang saudara.

Pada siang hari, Nasution telah berhasil menentukan kawan dan lawan. Ada 4 pilihan pusat mobilisasi Nasution: Mabes TNI, Kodam Jaya, Senayan, dan Kostrad. Nasution memutuskan konsolidasi pasukan dilakukan di Kostrad, dibawah pimpinan Suharto, seorang Jenderal yang low profile dan tidak terlalu berprestasi. Suharto merupakan bagian dari grup Ahmad Yani, Sukarnois, seperti halnya Sarwo Edhie. Suharto berhutang budi diselamatkan Ahmad Yani pasca kasus korupsi tim KPK bentukan Nasution. Mereka tentu sangat marah dengan berita gugurnya Jenderal Yani.

Siang pasukan RPKAD telah terkumpul di Kostrad dengan truk-truk pinjaman. RPKAD berhadapan dengan unsur dari 2 batalion di area Medan Merdeka. Suharto sebagai sesepuh batalion berhasil menarik unsur dari satu batalion, sementara batalion lain menarik diri ke Halim bergabung dengan pasukan G30S lain. Kawasan Medan Merdeka berhasil dikuasai.

Sore hari meriam-meriam anti serangan udara disebar melindungi pusat pasukan di Senayan. Markas Kostrad dipindah ke Senayan yang terlindung dari serangan udara. Di pihak lain, Marsekal Oemar Dhani sudah mengudara di pesawat komando, siap menerima instruksi Presiden. Pesawat-pesawat pembom di Jawa Timur di siagakan.

Kavaleri Siliwangi bergerak cepat datang ke Jakarta mendukung Nasution. Kehadiran Kavaleri Siliwangi memberikan keunggulan kekuatan bagi pasukan Nasution. Sebelumnya RPKAD datang menggunakan truk “pinjaman”. Salah satu dokumen perencanaan G30S menyebut adanya kesiapan dukungan kavaleri dari Bandung, yang disebut oleh Syam. Tanpa Nasution bisa jadi Kavaleri Siliwangi berpihak pada jenderal pendukung G30S atau tidak mau bergerak. Tetapi Nasution adalah veteran pendiri Siliwangi. Keberadaan Nasution menjamin Kavaleri Siliwangi berpihak pada Nasution. Disini terlihat arti penting lolosnya Nasution dalam menggagalkan G30S.

Nasution memerintahkan untuk segera merebut Halim. Sang Jenderal berkata pada Sarwo Edhie: “Kamu mau bikin Mapanget kedua”, mengingatkan pada bandar udara Mapanget di Manado yang menjadi basis AUREV PRRI dan direbut oleh RPKAD setelah gagal pada serangan pertama. Pada perang PRRI, Basis PRRI di Sumatra dihancurkan dalam waktu singkat dengan menguasai lanud, sementara Mapanget menjadi basis militer dengan dukungan asing karena tidak dapat direbut secepatnya seperti Padang.

Presiden Sukarno tidak menginginkan perang saudara, memerintahkan kepada komando Halim untuk membubarkan diri. Presiden sendiri terbang ke Bogor.

Sarwo Edhie adalah seorang Sukarnois bawahan Ahmad Yani (kenaikan-nya sebagai komandan RPKAD adalah instruksi Yani yang kontroversial untuk program de-Nasutionisasi). Ia masih tidak yakin dengan Nasution. Khawatir dirinya dijebak dan ditipu melawan Presiden, ia memberanikan diri menghadap Sukarno. Suatu tindakan “nekad”. Sukarno berada di Halim, markas pasukan yang menculik Ahmad Yani, yang bisa saja berniat membungkam Sarwo Edhie, sang komandan RPKAD. Nasution dan Suharto jelas-jelas melarang semua pihak bertemu Sukarno selama masih kondisi tempur.

Ternyata Presiden sudah ke Bogor. Sarwo Edhie dibawa ke Bogor dengan heli, bertemu Presiden Sukarno. Dalam dialog singkat dengan Presiden, Sarwo Edhie menyadari bahwa Nasution benar. Ahmad Yani gugur karena difitnah. Kembali ke Jakarta, hilang keraguan Sarwo Edhie untuk menggempur pasukan PKI, hilang juga rasa hormatnya kepada Sukarno.

Kemudian hari, tahun 1966, Kolonel Sarwo Edhie mendaftar menjadi mahasiswa UI untuk melindungi gerakan mahasiswa anti Sukarno dari pasukan pengawal Presiden. Elemen pasukannya tanpa seragam dikabarkan siap membalas menembak Presiden bila tidak membubarkan PKI, yang berujung pada Supersemar.

Kolonel Sarwo Edhie juga yang diutus oleh Nasution, bersama dengan Kavaleri Siliwangi, dalam kampanye lintas Jawa menumpas pemberontakan PKI didaerah-daerah di Jawa, hingga ke Jawa Timur.

Perlu dicatat disini peran Menpangal (Kastaf TNI AL) Laksamana RE Martadinata dan Marinir TNI AL yang berpihak pada Nasution dan mengerahkan panser melindungi Jenderal Nasution dan keluarga pada detik-detik paling penting untuk menggagalkan aksi kudeta. Peran panser sangat penting dalam detik-detik awal G30S pada 1 Oktober. RE Martadinata membuat pengumuman menolak G30S dan memerintahkan TNI AL ikut menumpas-nya. RE Martadinata harus membayar keberpihakannya pada Nasution dengan karirnya, beliau di-dubeskan oleh Presiden Sukarno.

gahetna-150630-01

Mengapa Perlu Ditonton TNI?

Hal yang sama tidak boleh terulang kembali. TNI tidak boleh di politisasi oleh kekuatan politik luar.

Pimpinan batalion, pimpinan pasukan tempur harus cerdas. Membedakan bila ditipu, atau digerakkan untuk fungsi yang salah, sekalipun oleh pemimpin nasional atau Panglima Tertinggi. Adanya komando diluar rantai komando (pada kasus ini Cakrabirawa) harus dihindari pada struktur militer.

Karena itu sangat penting bagi Prajurit TNI untuk menerima indoktrinasi yang cerdas dari pengalaman masa lalu.

Soal kebenaran apakah disilet atau ditusuk bayonet tentu tidak begitu penting. Bukan hal yang prinsipil. Namanya filem tentu mengandung banyak unsur dramatisasi.

Mengagungkan peran Suharto juga bukan masalah besar, karena sejarah bisa dipelajari bukan hanya dari filem. Filem hanya sebagai pengingat visual atas kejadian sejarah, bukan memberi rincian dari sejarah itu.

Tentu saja para ahli sejarah boleh meluruskan hal-hal yang kurang tepat di filem tersebut, memperkaya para pemirsa dengan konten sejarah. Pembuata filem baru juga merupakan hal yang patut didukung, namun sebaiknya diserahkan pada para budayawan, jangan dipengaruhi oleh pemerintah atau partai politik yang memiliki kepentingan pembelokan sejarah.

Panglima-TNI-Jenderal-Gatot-Nurmantyo

Kesimpulan

Kebijakan Jenderal Gatot sudah sangat tepat. TNI membutuhkan untuk menyegarkan kembali ingatan tentang G30S/PKI agar generasi muda TNI bisa belajar dari kesalahan-kesalahan TNI dimasa lalu, dan belajar dari kepahlawanan para pendahulu-nya. Bahwa aksi pengorbanan seorang Letnan dapat menentukan masa depan seluruh bangsa.

Karena lebih baik satu orang mati untuk bangsa ini, daripada seluruh bangsa terkena prahara.

 

Naskah Pidato Jenderal AH Nasution Pada 5 Oktober 1965

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s